Sabtu, 19 Desember 2009

Pengalaman Melamar Jadi CPNS

Saya lulus dari institut keguruan tahun 1986. Berkat nilai yang saya peroleh selama kuliah, begitu lulus saya langsung diterima mengajar sebagai guru honorer pada salah satu SMA swasta favorit. Ketika ada pengumuman lowongan pengangkatan calon pegawai negeri sipil (cpns), saya melamar sebagai cpns guru SMA dan dosen. Sehingga saya mempunyai 2 kartu ujian. Berdasarkan berbagai pertimbangan, antara lain karena waktu itu saya baru lulus dan sudah lelah belajar, maka saya memilih ikut ujian cpns guru SMA (Rabu, 3 September 1986). Sebuah keputusan yang akhirnya sangat disesali oleh salah satu dosen saya.
Dengan mulus akhirnya saya lolos tes cpns guru SMA, tanpa koneksi tanpa uang sogok. Namun kesempatan ini tidak saya ambil. Saya malah melamar menjadi dosen tetap pada salah satu institut keguruan swasta di Kediri (Jawa Timur), dan alhamdulillah diterima pada 1 Maret 1987 dengan gaji pokok Rp.64.800,- (80%). Selama di sana, saya mencoba melamar sebagai wartawati salah satu surat kabar terbesar di Jawa Timur. Sampai sekarang saya masih menyimpan kartu testingnya, yaitu Kamis 17 Maret 1988. Namun begitu sampai di tempat ujian, saya mengurungkan niat. Senin, 5 September 1988 saya ikut ujian cpns Kopertis wilayah VII di Surabaya, tetapi tidak lolos.
Suatu saat, Ayah saya datang ke tempat kost saya di Kediri dan menyerahkan surat panggilan mengikuti pelantikan sebagai cpns guru SMA. Saya kaget, karena sudah lebih dari setengah tahun surat panggilan saya abaikan. Namun tiba-tiba ada surat panggilan untuk mengikuti pelantikan, tetapi dengan syarat harus menyertakan alasan ketidak hadiran saya dalam pelantikan sebagai cpns guru SMA pada Kamis, 23 Pebruari 1988. Setelah saya pertimbangkan dari berbagai aspek, akhirnya saya memilih menjadi cpns guru SMA. Saya mengundurkan diri sebagai dosen tetap yayasan pada November 1988. Secara resmi sebetulnya saya sudah diterima menjadi cpns guru SMAN terhitung 1 0ktober 1987, dengan gaji pokok 80% x Rp.81.000,- = Rp.64.800.-, dan tunjangan jabatan Rp.20.000,-.
Mungkin ada yang berpendapat, menjadi cpns pada masa Orde Baru lebih mudah. Tidak juga. Rekan-rekan saya ada yang harus melalui beberapa kali testing. Jadi kepada guru (honorer, gtt) yang akan menjadi cpns, yakinlah dengan jalan lurus, tidak perlu mencari koneksi atau memberikan uang pelicin (sogok). Suatu saat Tuhan akan menunjukkan jalanNya, asal kita tetap berusaha.

0 komentar:

Poskan Komentar